Daya Saing Pariwisata Indonesia Masih Rendah

World Economic Forum (WEF) sudah merilis daya saing khusus untuk perjalanan dan pariwisata dalam laporan bertajuk: “The Travel and Tourism Competitiveness Report 2015: Growth through Shocks”. WEF membuat peringkat 141 negara berdasarkan Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI). TTCI diukur dengan menggunakan 90 indikator yang dikelompokkan dalam 4 subindex dan 14 pilar pengukuran. Empat subindex tersebut adalah (1) Dukungan lingkungan yang mencakup 5 pilar yaitu lingkungan bisnis, keamanan dan keselamatan, kesehatan dan kebersihan, sumber daya manusia dan tenaga kerja, dan kesiapan teknologi inforasi dan komunikasi; (2) Kebijakan dan kondisi yang mendukung yang mencakup 4 pilar yaitu prioritas perjalanan dan pariwisata, keterbukaan international, daya saing harga, dan kelestarian lingkungan; (3) Infrastruktur yang mencakup 3 pilar yaitu infrastruktur bandara, infrastruktur pelabuhan dan angkutan darat, dan infrastruktur layanan wisatawan; (4) Sumber daya alam dan budaya yang mencakup dua pilar yaitu sumber daya alam serta sumber daya budaya dan perjalanan bisnis.

Travel Tourism WEF 2015

Indonesia menduduki peringkat ke-50 dari 141 negara. Industri pariwisata di Indonesia memang menunjukkan perkembangan signifikan di era pemerintahan baru, yang menjadikan sektor pariwisata sebagai prioritas. Jumlah kunjungan wisatawan internasional mencapai 8,8 juta orang pada tahun 2014. Kebijakan untuk memprioritaskan sektor parisiwata membuat pilar prioritas industri pariwisata Indonesia menempati peringkat 15. Tiga pilar yang mendukung daya saing pariwisata Indonesia adalah daya saing harga (peringkat 3 dunia) dan kekayaan sumber daya alam (19), termasuk keanekaragaman hayati (peringkat 4 untuk total spesies yang dikenal) dan beberapa situs warisan dunia (10). Namun Indonesia dinilai buruk pada beberapa pilar atau indikator, misalnya kelestarian lingkungan (peringkat 134), penuruan area hutan (97), satwa yang terancam kepunahan (129), serta masalah keamanan dan keselamatan, khususnya ongkos bisnis akibat terorisme (104).

Post Your Thoughts


− dua = 4