Jejak Budaya dan Naskah Kuno di Kampung Pulo

Kampung Pulo - Papan nama

Salah satu obyek budaya yang disasar pada saat bulan puasa tahun ini adalah Candi Cangkuang dan Kampung Polu yang terletak di pulau kecil di tengah Situ Cangkuang yang berlokasi di Kecamatan Leles Kabupaten Garut. Situ Cangkuang merupakan sasaran pertama kami dalam ekspedisi budaya di Priangan Timur. Setelah menempuh perjalanan sekitar 50 km ke arah selatan dari Bandung – atau sekitar dua jam setelah keluar dari Pintu Tol Cileunyi – kami sampai di tujuan. Tiket masuk ke wilayah situs Cangkuang adalah Rp 3000 untuk dewasa dan Rp 2000 untuk anak-anak. Kami pun menyewa rakit terbuat dari bambu untuk menuju ke sebuah kampung adat yang bernama Kampung Pulo. Setelah sepakat dengan sewa rakit seharga Rp 80 Ribu, kami berlima sudah ada di atas rakit sambil menikmati keindahan alam.

Kampung Pulo - rakit

Mitos di balik obyek budaya atau sejarah masyarakat adat sering mengemuka berdasarkan tradisi lisan atau cerita turun-temurun. Demikian juga dengan Kampung Pulo. Dan kami mendengar cerita tentang sejarah Kampung Pulo dari salah satu keturunannya. Alkisah Seorang panglima perang dari Kerajaan Mataram yang bernama Arif Muhammad melarikan diri setelah kalah perang dengan Belanda. Dalam pelariannya, akhirnya Arif Muhammad sampai di sebuah desa yang dihuni oleh masyarakat, yang ketika itu masih menganut Hindu. Menurut cerita, Arif Muhammad diterima oleh masyarakat setempat, dan lambat laun menyebarkan Islam di wilayah tersebut. Nama Cangkuang sendiri diambil dari tanaman semacam pandan yang nama latinnya adalah Pandanus furcatus. Pohon Cangkuang tersebut masih tumbuh di Kampung Pulo.

Kampung Pulo - buah cangkuang

Situ Cangkuang relatif lebih kecil dibandingkan Situ Bagendit yang juga berada di Garut. Danau tersebut seolah dikepung oleh empat gunung di setiap penjuru mata angin, yaitu gunung Guntur, Haruman, Kaledong, dan Mandalawangi. Danaunya relatif dangkal yang dasarnya dapat disentuh oleh bilah bambu yang menjadi alat dorong rakit. Ketika menyusuri tepi danau, danau terlihat semakin dangkal dan permukaan yang bertabur bunga teratai nan indah. Kayuhan bilah bambu panjang mencoba menghindar dari kepungan bunga teratai yang semakin banyak di pinggir danau yang berbatasan dengan perkampungan penduduk dan areal persawahan.

Kampung Pulo - teratai

Setelah 10 menit berakit, kami sudah menginjak kaki di pulau kecil setelah naik rakit bambu dari gedung pinggir jalan masuk yang merangkap sebagai kantor. Udara sejuk yang dibawa angir semilir dari hutan rimbun pun menyapa kami. Kami masuk ke area cagar budaya melalui jalan kecil yang melingkari pulau. Kami masuk ke tengah pulau dari belakang perumahan adat yang dikenal sebagai Kampung Pulo. Kampung Pulo hanya terdiri dari 7 bangunan utama, yaitu enam rumah tinggal dan satu mushola. Warga yang menghuni Kampung Pulo merupakan keturunan dari Arif Muhammad, termasuk Pemandu Wisata yang menemani kami mengelilingi pulau sembari bercerita tentang sejarah dan adat-istiadat di Kampung Pulo. Jumlah rumah dan kepala keluarga itu harus enam orang. Susunan letak rumahnya adalah tiga rumah disebelah kiri dan tiga rumah disebelah kanan yang saling berhadapan, ditambah satu mushola sebagai tempat ibadah yang berada di ujung sehingga perumahan adat tersebut seolah membentuk huruf U.

Kampung Pulo - perkampungan

Anak yang sudah dewasa dan menikah harus meninggalkan rumah tempat asalnya paling lambat dua minggu setelah pernikahan. Mereka harus keluar dari lingkungan keenam rumah adat tersebut. Anak keturunan bisa kembali ke Kampung Pulo jika salah satu keluarganya meninggal dunia dengan syarat harus anak wanita. Beberapa adat lain yang diceritakan adalah larangan memelihara satwa berkaki empat yang – menurut pemandu wisata – dikhawatirkan dapat mengotori lingkungan; tidak diperkenankan untuk mempunyai dan menabuh gong yang dilatarbelakangi kematian salah satu putra Eyang Mbah Dalem ketika pesta sunatan; serta larangan bekerja pada hari Rabu, yang dianggap hari baik untuk mempelajari agama.

*****

Kami selanjutnya beranjak ke bagian tertinggi pulau melalui tangga-tangga kecil dari Kampung Pulo. Jaraknya tidak lebih dari 50 meter. Bangunan Candi yang diperkirakan berasal dari abad ke-8. Candi yang relatif kecil yang ditemukan pada 9 Desember 1966 tersebut sudah terlihat sebelum kami mulai menapak di anak tangga pertama. Menurut informasi dari situs PNRI, setelah dipugar, Candi Cangkuang mempunyai ukuran yang sesuai dengan keadaan alamnya. Tinggi bangunan sampai ke puncak atap adalah 8,5 m. Tubuh candi berdiri di atas kaki berdenah bujur sangkar berukuran 4,5 X 4,5 m. Atap candi bersusun-susun membentuk piramid. Sepanjang tepian setiap susunan dihiasi semacam mahkota-mahkota kecil. Dalam candi terdapat ruangan seluas 2,2 m2 dengan tinggi 3,38 m. Di tengah ruangan terdapat arca Syiwa setinggi 62 cm. Candi Cangkuang tersebut pertama kali dipugar pada tahun 1974 sampai 1976.

Kampung Pulo - candi cangkuang

Arif Muhammad akhirnya wafat dan dimakamkan di Kampung Pulo, dan mendapat sebutan atau gelar Eyang Mbah Dalem. Makam Eyang Mbah Dalem Arif Muhammad terletak di Kampung Pulo, bersanding dengan Candi Cangkuang. Beliau diperkirakan datang ke kampung Pulo sekitar abad ke-17. Pemandu kami tidak mau bercerita soal bagaimana Eyang Mbah Dalem berkeluarga berikut nama istrinya dulu. Yang jelas, semua anak-keturunannya menempati enam rumah di Kampung Pulo hingga kini. Satu rumah atapnya dari daun enau ditempati oleh Kuncen atau juru kunci Kampung Pulo. Jumlah kuncen yang telah menjaga Kampung Pulo sampai sekarang adalah 8 kuncen, mulai H. Salim pada tahun 1882 sampai Bapak Tatang Sanjaya yang mengemban kuncen dari tahun 1997 sampai sekarang. Enam rumah ditambah satu mushola tersebut tetap dipertahankan sampai keturunan yang ke tujuh sampai sembilan yang saat ini masih hidup, termasuk pemandu wisata yang menemani kami.

Kampung Pulo - makam

Selanjutnya, Kami masuk ke museum kecil yang terletak persis di depan makam Eyang Mbah Dalem. Musem tersebut menyimpan dan mendokumentasikan beberapa cacatan dan peninggalan sejarah. Sejumlah naskah kuno yang ditulis pada serat kayu dari pohon Saeh dengan tinta dari sari air tape ketan hitam tersebut terlihat sudah lapuk dimakan usia. Naskah tersebut diperkirakan dari abad ke-17 seperti tertulis dalam keterangan pada dokumentasi masing-masing naskah yang tersimpan dalam lemari kaca sederhana. Ajaran-ajaran yang disampaikan dan ditulis oleh Eyang Mbah Dalem dalam naskah-naskah tersebut tidak berbeda dengan apa yang kita dapatkan dari para ulama sekarang ini. Bukti ajaran tersebut dapat dilihat pada naskah kuno yang tersimpan di museum yang terlihat kecil dan sederhana. Naskah kuno dalam bahasa arab dan jawa tersebut di antaranya adalah naskah Al-Qur‘an, naskah fiqih, naskah macam-macam doa, naskah tauhid, naskah nahwu dan sharaf, naskah khutbah, serta naskah sastra berupa cerita patih.

Kampung Pulo - naskah kuno

Semoga ada upaya penanggulangan terhadap kondisi naskah kuno yang lapuk tersebut. Naskah tersebut menjadi jejak sejarah yang berharga yang telah berumur empat abad. Sepanjang waktu itulah Kampung Pulo menjadi bukti harmoni budaya yang tetap lestari hingga kini.

[Budi Hermana, Tim Ekspedisi Universitas Gunadarma]

There is one comment

Post Your Thoughts


− satu = 6