Curug Muara Jaya

curugmuarajaya

Tak tanggung-tanggung, kami harus menuruni hampir 400 anak tangga sebelum sampai ke pinggir sungai. Tepatnya 381 anak tangga jika salah satu rombongan tidak salah hitung. Itu tidak termasuk jalan menurun yang tertutup conblok yang telatif menurun dengan kemiringan sedang-sedang saja.

Doc.bhermana

Doc.bhermana

Semakin jauh kami melangkah, anak tangga semakin menurun tajam dan berkelok-kelok. Ketika gaya gravitasi menolong kami melangkah ringan ke bawah, ketika itu pula terlintas di benak, bagaimana lelahnya kami nanti saat kembali. Rasa penasaran dan keindahan alam di di bawah sana menepis sementara bayang kelelahan saat mendaki nanti.

Doc.bhermana

Doc.bhermana

Dingin pun menyergap sela-sela jari kami saat kaki telanjang menyentuh air bening. Muka pun terasa dingin diterpa tempias air terjun  yang berhamburan tertiup angin. Gemiricik air mengalir dan celoteh para pengunjung pun terdengar samar-samar. Kalah suara dengan dentuman air terjun setinggi lebih dari 70 meter yang menyerempet tebing lalu terjun bebas menerjang hamparan air di bawah. Buih-buih putih pun menghiasi permukaan air lalu hilang ketika aliran airnya menyentuh kulit kaki yang mulai kedinginan.

Doc.bhermana

Doc.bhermana

Setelah terpuaskan dengan keindahan alam dan sejuknya udara pegunungan, kami pun bergegas untuk  meninggalkan lokasi air terjun. Begitu mata melirik ke atas, terbayang lagi perjuangan berat yang harus kami lalui.

Doc.bhermana

Doc.bhermana

—–00O00—–

Curug Muara Jaya terletak di desa Argamukti kecamatan Argapura dengan jarak sekitar 28 kilometer dari Kota Majalengka. Jalan menanjak mulai mendomonasi begitu kami meninggalkan batas kota Majalengka. Setelah melewati terminal angkutan kota di kecamatan Maja, kendaraan berbelok ke kiri. Silhuet Gunung Ciremai yang dipagari bukit-bukit di kakinya mengintip dari gumpalan awan kelam. Ke sanalah kami menuju.

20161231_155845

Jalan mulai mengecil dan menanjak terjal. Kelokan pun makin sering terlewati karena kami jalan berputar-putar untuk mengitari bukit. Makin lama kami makin menuju lereng bukit. Perjalanan belum berakhir karena bukit berikutnya sudah menunggu.

Perjalanan makin membuat jantung berdebar. Jalan sempit dibatasi tebing di satu sisi, dan lembah, bahkan jurang di sisi lainnya. Adrenalin pun mulai terasa ketika kami berpasasan dengan kendaraan lain dari atas. Apalagi jalan makin berkelok-kelok dengan kemiringan tajam. Bahkan perjalanan kami sempet terhenti sejenak ketika kendaraan di depan kami tak kuat lagi mendaki.

Meskipun jantung deg-degan, mata kami dimanjakan panorama alam yang luar biasa. Detetan perkampungan berselang seling dengan hamparan sayuran. Ketika kepala sedikit mendongak, tampak gunung Ciremai seolah mendekat. Deretan bukit yang diselimuti hamparan terasering sawah membentuk guratan-guratan yang terlihat elok bak lukisan karya seniman.

Doc.bhermana

Doc.bhermana

Sayang kabut mulai turun. Padahal waktu belum sampai jam tiga sore saat kami tiba di pintu masuk lokasi wisata. Dengan berbekal tiket seharga 15 Ribu Rupiah per orang, kami pun memulai petualangan penuh perjuangan di Curug Muara Jaya. Demi menikmati air terjun dua tingkat, tingkat pertama sekitar 60-an meter dan tingkat kedua belasan meter.

Doc.bhermana

Doc.bhermana

Majalengka, 31 Desember 2016

Tulisan terkait:

Teknologi dan Seni di Balik Sengkedan

Post Your Thoughts


tujuh × 1 =