Bagaimana Caranya Menjadi Warisan Dunia?

Program Warisan Dunia atau World Herietage dirilis oleh Unesco menyetujui konvensi tentang upaya perlindungan terhadap warisan budaya dan alam di tingkat negara pada tanggal 16 November 1972. Indonesia baru menerima konvensi tersebut pada tanggal 6 Juli 1989, dan 2 tahun kemudian berhasil mendaftarkan 4 warisan dunia yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan sebagai warisan budaya dan Taman Nasional Komodo dan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai warisan dunia.

Warisan budaya bisa berupa monumen, kumpulan bangunan, dan situs budaya, sedangkan warisan alam dapat berupa fitur alam, formasi geologis dan fisiografis, serta situs alam. Daftar warisan dunia yang pertama kali di rilis pada tahun 1978 terdiri dari 12 warisan dunia dan alam, satu diantaranya adalah kepulauan Galapagos yang masyur sebagai tempat penelitian Charles Darwin yang akhirnya menemukan teori seleksi alam.

Peta Warisan Dunia (Unesco)

Peta Warisan Dunia (Unesco)

Indonesia sendiri sampai tahun  2015 baru mempunyai 8 warisan dunia yaitu Candi Borobudur, Taman Nasional Komodo, Candi Prambanan, Taman Nasional Ujung Kulon, Situs Manusia Purba Sangiran, Taman Nasional Lorentz, Hutan Tropis Sumatera, dan Sistem Subak. Sayangnya Hutan Hujan Tropis saat ini berstatus dalam bahaya karena ancaman penebangan liar, ekspansi lahan pertanian, dan pembuatan jalan yang mengancam kelestarian warisan alam tersebut.

Setiap negara dapat mengajukan nominasi dunia ke Unesco yang akan diseleksi oleh komite khusus. Obyek yang dinomisasikan harus mempunyai nilai universal yang luar biasa dan memenuhi  satu atau lebih dari 10 kriteria yang telah ditetapkan oleh Unesco, diantaranya representasi mahakarya dari kejeniusan kreatifitas manusia dan kumpulan atau lanskap bangunan, rancanga arsitektur, dan teknologi yang luar biasa yang menjadi tahapan signifikan pada sejarah manusia.

Bagiamana prosedur selengkapnya untuk mengajukan nominasi warisan dunia dapat dilihat di sini.

 

Post Your Thoughts


− satu = 5